Skip to content

Pahlawan dan Kelembutan

June 9, 2011

Medina Mosque, Manchester, Oktober 2010

Kita biasa mendengar tentang pahlawan. Kita juga biasa berbicara soal pahlawan.

Andai perkataan tersebut kita dengar sekali imbas, apakah yang akan kita bayangkan?

Pasti, akan terbayang sang panglima perang, yang terus-terusan menembusi benteng musuhnya dalam peperangan demi peperangan. Dia seperti angin, yang akan terus dan terus bertiup, meskipun terpaksa menghadapi gunung yang paling kukuh di atas muka bumi. Dia teguh. Dia tegar. Dan berani!

Atau bisa juga, akan terbayang sang da’i, yang hebat amalan dakwahnya. Pagi, petang, siang dan malam dia bekerja, seperti deruan ombak yang tidak pernah berhenti memukul tepian pantai.
Dia istiqomah. Dia bersemangat. Dan optimis!

Juga, mungkin akan terbayang sang orator, yang bisa menghidupkan jiwa-jiwa yang mendengar pidatonya. Kata-katanya ibarat mentari di siang hari, di mana mentari itu menerangi seluruh alam yang dijangkauinya, lalu mencetuskan energi. Dia mempersonakan. Dia bijaksana. Dan hidup!

Jika kita memerhatikan semua gambaran di atas, pahlawan itu digambarkan sebagai seorang yang hebat. Seorang yang bisa mengubah dunia. Tidak ada istilah ‘orang biasa-biasa’ di situ, kerana mereka merupakanĀ orang-orang yang luar biasa. Namun, kita lupa akan satu ciri yang perlu ada pada setiap daripada mereka yang bergelar ‘pahlawan’.

Di situlah adanya ‘kelembutan’.

‘Kelembutan’ itu tidak merujuk kepada peribadinya yang lemah. Tidak sama sekali. Kerana ingat, mereka luar biasa! Merekalah agen pembentukan peradaban dunia.

‘Kelembutan’ itu merujuk kepada peribadinya yang berjiwa penyayang. Setiap manusia itu punya fitrah untuk menyayangi dan disayangi. Pahlawan juga tidak bisa melarikan diri daripada itu. Bahkan, dia harus meraikannya.

Ingatkah kita akan kisah Salahuddin al-Ayyubi yang telah memberikan buah tangan kepada King Richard I ketika Richard jatuh sakit? Nah, kita sedang berbicara tentang dua musuh dalam Perang Salib III. Tetapi, sifat penyayang itu masih ada dalam diri Salahuddin. Jangan dilupakan, bahawa Salahuddinlah yang telah menyatukan tentera Muslimin untuk bangkit menentang tentera Salib.

Itulah pahlawan. Hebat di medan perang. Dan punya jiwa yang penyayang.

Itulah peribadi yang mampu menarik sokongan masif orang ramai.

Bayangkan seorang panglima perang, yang tidak punya kelembutan itu…nescaya orang-orang yang tidak berdosa akan habis dibunuhnya, seperti banjir menderas yang menhanyutkan semua yang menghalang perjalannya.

Bayangkan seorang da’i, yang tidak punya kelembutan itu…nescaya akan mudah melenting apabila seruannya ditolak, seperti mencurah minyak kepada api yang sedang terbakar.

Bayangkan seorang orator, yang tidak punya kelembutan itu…nescaya kata-kata indahnya itu bisa menjadi bahan untuknya menjatuhkan orang lain. Di situ, mulut murai yang becok itu lebih mulia daripada mulutnya yang berbicara.

Nah, kini, anda sudah pasti nampak perkaitan antara ‘pahlawan’ dan ‘kelembutan’, bukan?

 

__

Kamal Haziq, Manchester

5.39 pagi, 9 Jun 2011

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: